Biasanya setelah pulang sekolah rina selalu membantu ibunya berjualan. Hari ini dengan enggan dia langsung masuk ke kamar dan membaringkan tubuh diatas tempat tidur. Semenjak kepergian ayahnya 5 tahun yang lalu, ibunya harus mencari nafkah untuk menghidupi rina dan kedua adiknya yang masih kecil. Buka usaha rumah makan sederhana di samping rumah.
” Rin, cepat bantu ibu nak! ” terdengar suara ibunya memanggil.
” Aku lagi enggak enak badan bu..” Rina menjawab pelan.
” Oh…ya sudah, kamu istirahat saja nanti ibu belikan obat”.
Sambil berbaring rina memperhatikan tas kecil berwarna hitam yang tergeletak di samping tas sekolahnya dan mengingat kembali kejadian tadi siang di sekolah. Kejadian yang membuatnya masih gemetar sampai saat ini.
Saat mau masuk ke dalam kelas, rina kaget bukan kepalang lisa cs dengan memaksa menarik lengan dan menyeretnya menuju kantin sekolah. Ada apa sebenarnya lisa menemuinya dan memaksanya kekantin ? rina berkata dalam hati.
Tidak ada yang tidak mengenal lisa dan 3 orang temannya. mungkin satu sekolah ini mengenal mereka. Selalu tampil cantik dan modis,dari parfum, sepatu, tas semua yang di pakainya serba mahal dan bermerk .
Sesampainya di kantin rina duduk di kelilingi lisa cs.
” Rin, om budi naksir loe”. kata lisa yang berdiri di depan rina.
” Om budi mana?”.
” Teman pacar gue, setelah liat foto loe dia naksir”. Tampa basa basi lisa melanjutkan ucapannya
” Loe mau nggak jadi pacarnya? “.
Foto yang mana, aku nggak pernah kasih foto ke lisa. Oh…mungkin waktu tour sekolah bulan kemarin..
” Gimana rin!”.
Suara lisa membuyarkan lamunan rina. Sambil tengok kiri kanan lisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
” ini sebagai bukti kalau om budi naksir loe dan mau loe jadi pacarnya, Loe ngak harus jawab sekarang. Gw tunggu 5 hari gimana? “.
Tampa menunggu jawaban rina setuju atau tidak lisa cs pergi meninggalkan rina yang masih kebingungan.
Masih duduk dikantin sekolah perlahan rina membuka tas terbuat dari bahan berwarna hitam yang diberikan lisa tadi. Betapa terkejutnya rina melihat isi tas , setumpuk uang seratus ribuan yang masih baru. Dengan cepat dia mengikat kembali tas hitam itu dan bergegas melangkah menuju kelasnya.
Rina bangkit dari tempat tidur, menyimpan uang yg masih di dalam tas di tumpukan pakaiannya. Ingin ia ambil beberapa lembar uang itu untuk memenuhi keperluan sekolahnya.
Di perhatikannya rok abu-abu yang warnanya sudah memudar. Ia hanya memiliki satu pasang sepatu sekolah, kalau musim hujan tiba sangat menyedihkan. Karena masih basah ketika di pakai sepatunya mengeluarkan busa sabun. Dia juga banyak membutuhkan buku tulis yang mulai habis. Sudah 2 kali dia tidak mengikuti pelajaran olahraga karena tidak punya seragam. Biasanya ia pinjam seragam sahabatnya tri, sudah 2 minggu tri sakit tidak masuk sekolah. Rina tidak tega minta uang ke ibunya untuk membeli segala keperluannya itu. Ia tidak mau menyusahkan ibunya.
Hari-hari terus berlalu. Setiap istirahat, pulang sekolah, rina tahu lisa cs selalu memperhatikan gerak geriknya. Dan hari yang di nantikan lisapun tiba, jawaban rina.
Dengan langkah pasti rina keluar kelas. Dia tidak mau lisa cs menarik -nariknya lagi,dengan cepat rina menuju kantin sekolah.Benar saja di sana lisa dan teman-temannya sudah menunggu dengan gelisah. Sebelum lisa melihatnya, rina menghampiri sambil tersenyum.
” Bagaimana say..?” wajah lisa terlihat cerah menyambut kedatangan rina.
” Aku…menolak!” rina meletakan tas berisi uang di atas meja.
” Kamu hitung saja uang itu masih utuh”.
Tampa menunggu jawaban , rina pergi meninggalkan lisa dan teman-temannya. Tidak di hiraukan ucapan lisa yang jelas terdengar.
” norak!..
“Munafik!..
Masih tersenyum rina berjalan pulang. Entah kenapa langkahnnya kali ini terasa ringan. Matahari yang bersinar terik baginya terasa teduh. Matanya menatap langit biru, di pandanginya awan putih yang berarak perlahan. Di sana dia seperti melihat wajah ayahnya, memandang tersenyum bahagia.
Sesampainya di rumah, seperti biasa rina membantu ibunya berjualan. Setelah tidak ada pembeli ia menghampiri ibu yang sedang nonton tv. Dengan memberanikan diri, dia mengutarakan keinginannya.
” Bu, aku nggak punya baju olahraga bu, buku tulisku juga sudah habis”.
Tampa menjawab ibunya berdiri dan masuk ke dalam kamar. Rina menundukkan wajah, sebenarnya dia tidak mau menyusahkan ibunya.
” Ini, kamu beli segala keperluanmu”. tiba-tiba ibunya muncul dari dalam kamar.
” Kalau butuh apa-apa bilang rin, ibu kan tidak tau keperluanmu”.
Rina merasakan tangan ibu membelai rambutnya.
” Insya Allah ibu bisa menyekolahkanmu sampai ke perguruan tinggi”.
Rina mencium tangan ibu dan memeluknya, membiarkan air matanya mengalir membasahi baju ibunya. Setelah lulus nanti aku akan kuliah sambil bekerja bu, aku akan membantu ibu membiyayai adik-adik. Janji rina dalam hati.
,